Entri Populer

Selasa, 14 Desember 2010

Obsesi

Judul : Obsesi
Pengarang : Lexie Xu 
Tahun terbit: 2010 
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Jumlah halaman: 235 hal.
Desain sampul: maryna_design@yahoo.com
PoV: Orang pertama pelaku utama (Multiple PoV)

Pada awalnya, saya tidak berniat untuk membeli novel ini. Saya baru saja membeli sebuah buku yang harganya menguras dompat saya, tapi setelah saya pikir-pikir,  kenapa tidak?  Ada dua alasan kenapa saya memilih novel ini. Pertama sampul. Saya tertarik dengan bercak darah yang ada di salah satu karakternya, dan kalau saya perhatikan, font yang digunakan sebagai judul oke juga. Yang kedua saya merasa bahwa novel ini berbeda karena menyuguhkan sesuatu yang tidak melulu romance. Pada akhirnya, saya berani bilang kalau saya tidak menyesal telah membeli novel ini. Mari kita cari tahu kenapa....
Sinopsis
Obsesi bercerita tentang dua orang sahabat, yakni Jenny—cewek cupu yang tinggal di sebuah rumah menyeramkan dan memiliki dua teman sekelas yang bernama sama dengannya—dan  Hanny—cewek cantik dan populer yang suka gonta-ganti pacar. Suatu ketika, kedua sahabat itu diajak jalan oleh Tony dan Markus, dua orang cowok yang terkenal ganteng di sekolah mereka. Tony lantas mengajak Hanny pacaran, tapi kemudian ia mencampakkannya beberapa hari kemudian. Berdasarkan informasi dari Johan, salah satu sahabat Hanny yang berkacamata tebal, Tony melakukan itu untuk memenangi taruhan, dan ia berkomplot dengan Jenny. Hanny yang tengah berada dalam kondisi depresi pun percaya dan memutuskan untuk mengakhiri persahabatannya dengan Jenny. Bukan cuma itu, ia bahkan mengutuk Jenny untuk sial selamanya.
Beberapa hari berselang, sebuah kecelakaan menimpa Jenny lain, yakni Jenny Bajaj, yang diikuti dengan kecelakaan lain yang melibatkan Jenny yang satu lagi, Jenny Tompel. Kedua orang Jenny itu lantas menyalahkan kutukan yang dikeluarkan oleh Hanny sehingga mereka juga turut terkena getahnya.  Jenny pun turut merasa was-was dan khawatir, tapi untunglah Tony, yang kini sudah berpacaran dengannya, dan Markus selalu memastikan dirinya tidak akan ditimpa oleh sesuatu yang buruk. Ketegangan semakin bertambah setelah munculnya  beberapa kejadian aneh yang terjadi di rumah Jenny, yang membuat mereka bertiga menyelidikinya.
Sementara itu, setelah berpisah dari Jenny, Hanny semakin dekat dengan Johan. Ia bahkan sempat berkunjung ke rumah Johan yang menurutnya agak aneh. Namun, lama-kelamaan ia merasa kehilangan Jenny dan lalu berniat untuk kembali berdamai  dengan Jenny. Namun, atas alasan yang tidak ia ketahui, Johan selalu tampak tidak setuju. Pada akhirnya Hanny tetap berbaikan dengan Jenny, dan dari situ, mereka jadi tahu kalau kejadian yang mereka alami selama ini tak lain hanya buah dari sebuah obsesi belaka.

Pembahasan
Sudah agak lama sejak saya membaca novel dengan multiple PoV,   dan Obsesi menyuguhkan penggunaan  sudut pandang mejemuk yang mengagumkan. Baik pemikiran atau perbuatan yang dilakukan oleh Jenny dan Hanny  maupun kejadian yang mereka alami saling berdiri satu sama lain sehingga terlihat betul perbedaan karakteristik mereka. Rasanya seperti ada dua orang yang bercerita sendiri-sendiri berdasar versi masing-masing, tapi pada akhirnya menyambung dan lalu membentuk satu alur utuh. Nice. Perbedaan sudut pandang ini juga telah dimanfaatkan dengan efisien sehingga—di samping sebagai variasi dari narasi—berfungsi sebagai pembentuk dan penjaga alur. Salah satu hal yang menjadi permasalahan yang sering muncul dalam sudut pandang multiple PoV adalah overlapping alur yang mana satu kejadian yang sama diceritakan oleh dua orang berbeda (dan kadang terkesan mengulang sehingga bikin bosan), tetapi alur  di Obsesi terus mendesak maju sehingga tidak terjadi overlap. Dengan kata lain, integrasi alur dan sudut pandangnya benar-benar mengagumkan. Pemilihan sudut pandang orang pertama yang dilakukan oleh Lexie juga konsisten—dengan porsi yang pas sehingga tidak terasa adanya overlapping—dengan adanya beberapa bagian yang tidak diketahui oleh satu karakter dan karakter lain dan baru diketahu karakter lain di bagian lain (semisal halaman 228 yang mana Hanny baru tahu kalau paman Markus ternyata adalah polisi, tetapi sudah diketahui oleh Jenny di halaman sebelumnya). Apalagi ditambah dengan transisi antarsudutpandang  yang juga dilakukan dengan smooth sehinnga  tidak ada kejadian yang patah dan terjadi secara tiba-tiba saat sudut pandang berganti.. Penempatan babnya juga oke, sehingga cerita bisa diawali oleh Jenny dan diakhiri oleh Hanny. Cerdas.
Kemudian konflik dan alur. Pada awal-awal cerita, kita digiring untuk menduga bahwa kejadian yang akan dialami oleh Jenny dan Hanny berkaitan dengan supranatural (hal ini juga diperkuat dengan “mimpi buruk” Jenny dan “kutukan” Hanny), tapi lambat-laun dan perlahan-lahan, novel ini akan menampakkan genre aslinya: thriller. Meskipun begitu, memiliki genre thriller tidak membuat  Obsesi kehilangan ciri khasnya sebagai novel remaja. Sepertiga awal dari buku ini lebih terfokus pada permasalahan remaja seperti perseteruan Jenny dan Hanny akibat masalah percintaan mereka dengan Tony. Masalah itu masih tampak ketika konflik yang lebih besar (Bab 6) mulai muncul sehingga menjadi pergelutan sendiri yang khas.  Untunglah konflik remaja itu berhasil diselesaikan sebelum  konflik yang paling besar muncul (bab 14), sehingga kita bisa lebih terfokus pada konflik utama dan membacanya dengan lebih leluasa Berbicara tentang konflik utama (yang sengaja tidak saya utarakan untuk menghindari spoiler), penggunaan berbagai hal yang tampaknya tidak penting dan diutarakan di awal cerita untuk dihubungkan dengan konflik utama (Chekov’s Gun) menjadi suatu hal tersendiri  (semisal cerita di rumah lama Jenny [ hal. 174] dan tikus putih [hal. 204]). Namun, di sisi lain, adanya “tabir” dalam cerita ini menghasilkan beberapa plot yang menggantung, seperti kenapa Jenny Tompel bisa mengancam Jenny (hal. 109).
Lalu, kultur. Lexie sepertinya memliki minat untuk membawa novel ini menjadi mirip novel asing (baca: terjemahan), tetapi ia enggan untuk meninggalkan kultur lokal. Hal yang membuat saya berpikir seperti itu adalah gaya penceritaannya yang entah bagaimana mirip terjemahan (mungkin dengan  banyaknya-penggunaan-style-seperti-ini), penggunaan loker di sekolah, dan nilai huruf alih-alih angka. Namun, di sisi lain Lexie berkali-kali menegaskan bahwa “cewek tidak boleh masuk kamar cowok” dan sebaliknya (ada kira-kira tiga kali). Saya tidak tahu kenapa, tapi itulah yang saya tangkap.
Kemudian, latar suasana. Kalau yang ini saya tidak perlu berkomentar banyak: amazingly awesome.  Lexie dengan cerdas dapat meramu berbagai latar suasana mencekam yang dibutuhkan oleh novel thriller.  Dengan menggabungkan antara latar tempat dan kadangkala pikiran irasional sang tokoh, maka latar suasana yang mencekam pun berhasil dibentuk. Langsung saja: beberapa halaman seperti halaman 34, 88, 108, 132 hingga 136, dan 151 merupakan contoh yang bagus, tapi tidak ada yang lebih baik dari adegan di bab 17 hingga 19 (saya yakin, semua yang udah baca pasti setuju!). Bagaimana Lexie menaikkan tension setelah sebelumnya segala hal sudah terasa “damai” juga patut digarisbawahi. Nice.  Ending dari novel ini juga bagus: sebuah cliffhanger yang mencekam. Beberapa suasana romantis juga berhasil dibangun oleh Lexie, meskipun, jujur saja, masih lebih baik suasana mencekam yang ia buat. Adegan ciuman dan cuci tangan bareng Jenny-Tony sepertinya sedikit maksa, tapi cukup kreatif.

Penilaian? Saya betul-betul merekomendasikan novel ini. Seriously. Suasana tegang yang dibangun seringkali dapat membuat saya menahan nafas ketika membacaya (secara harfiah), dan beberapa bagian yang tak terduga menambah poin plus novel ini. Kalau kamu suka dengan cerita thriller yang penuh aksi dan beberapa adegan tak terduga, maka buku ini sangat cocok untukmu!

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar